Hari Pertama di Korea Selatan!

Kita mulai perjalanan ini dengan cerita ber-genre komedi.

Misi pertamaku sesampainya di Korea Selatan adalah mencari toilet! Hahaha... Baru turun dari pesawat sudah penguin "menabung." Dikira akan terasa lega setelah menemukan toilet, ternyata sesampainya di bilik justru harus dibuat mikir karena semua tulisan di tombol samping toilet duduknya menggunakan bahasa Korea sepenuhnya. Yah... Aku berharap apa? Akhirnya aku terjemahkan satu-satu semua tulisan itu. Beginilah resiko menuju negeri ginseng sebelum menguasai bahasanya.

Sial sekali, aku harus sampai di Korea dengan keadaan perut sedang tidak baik-baik saja. Rasanya campur aduk antara kembung dan mulas. Mungkin ini efek dari rasa gugupku sebagai orang asing di sini. Setelah menyelesaikan misi pertama, aku berjalan menuju meja tempat pengisian Health Declaration sebelum masuk ke bagian imigrasi di Bandar Udara International Incheon, Korea Selatan. Saat mengisi formulirnya, aku berdiri di samping satu keluarga muda dari Indonesia. Di situlah perutku mulai tidak bisa dikontrol, aku tidak sengaja buang angin di samping mereka... dan ada suaranya. Tapi, seperti biasa, aku pakai jurus "pura-pura tidak ada apa-apa." Hehe... Maaf ya, teman-teman. Aku ternyata cuma manusia biasa yang bisa kentut juga. Untungnya, salah satu dari keluarga itu (perempuan) baik sekali dan menghampiriku untuk memastikan aku bisa mengisi formulirnya dengan benar. Dalam hati, aku bersyukur, kakak itu mendekat untuk mengecek formulirku. Awalnya, kukira dia mendekat untuk berbisik, "mbak, barusan kentut, ya?"

Lanjut!
Bagian terlama saat di bandara adalah mengantre di imigrasi. Ternyata, tidak seperti yang diceritakan oleh banyak orang di media sosial, tidak ada pertanyaan atau adegan menegangkan selama di bagian imigrasi. Cek paspor, visa, wajah, sidik jari, dan... selesai! Setelah itu, baru aku bisa mengambil bagasi di lantai satu Terminal 2. Mulai dari sini, kebingunganku dimulai. Tapi, di sini aku bingung dengan santai dan gaya (bingung-bingung gini udah sendirian aja di Korea). Aku ambil cart untuk membawa koper, lalu jalan menyusuri bandara sambil mengikuti petunjuk, menuju kios tiket bus. Pembelian tiketnya sangat mudah dan cepat, asalkan sudah tau bus stop yang dituju. Aku berhasil dapat tiket di pukul 13.30 PM --3 jam dari waktu kedatanganku. Dengan kaki bekas lelah mengejar waktu saat transit di bandara Soekarno-Hatta Jakarta dan pantat yang lelah duduk setelah 9 jam total penerbangan, aku memutuskan untuk istirahat sebentar sembari menunggu busku datang. Tidak ada yang terlalu membingungkan di bandara Incheon. Informasi mengenai bus semuanya terpampang di layar, lengkap dengan waktu keberangkatan dan nomor platform-nya. Pukul 13.00 PM aku menuju ke platform 4, tempat busku berhenti. Di situ, language barrier mulai terasa. Aku menanyakan tentang bus Dan tiket kepada salah satu sopir bus, menggunakan bahasa Inggris. Ternyata benar, seperti yang banyak orang bilang, kalau di Korea, bahasa Inggris hampir tidak berguna. Akhirnya, pada pukul 13.20 PM ada bus yang berhenti di platform 4, di sini aku mulai ngawur bertanya menggunakan bahasa Korea seadanya. "저기요 이거는 이 버스 마자요?"  sambil menunjukkan tiketku.

Teman-teman yang bisa bahasa Korea, maaf ya, kalau bahasaku belum sempurna. Ajarin juseyo...✊😭 Udah grogi dan panik, jadi asal keluar deh kalimatnya.

Benar! Itu busku. Aku senang akhirnya akan segera berangkat ke Jinju. Tapi, sedih juga. Ternyata, di sini, sopir bus tidak membantu penumpang untuk menaikkan atau menurunkan koper. Jadi, ya... Aku mengangkat koperku seberat 30 kg dan 7 kg sendiri, sambil bilang "berat banget anjay," sebagai orang Indonesia tulen. Aku lanjut masuk ke bus, di situ aku melihat dua orang laki-laki di tempat duduk paling belakang (tempatku juga di situ). Karena bingung mencari tempat duduk nomor 26, akhirnya aku mengeluarkan password-nya, yaitu "Indo mas?", dan aku-pun duduk di antara dua orang Indonesia.

Selanjutnya, ini dia sekilas informasi perbedaan dan persamaan bus Indonesia dan bus Korea.
Persamaan: (1) AC-nya tidak terlalu dingin, alias lumayan gerah; dan (2) sopirnya nyetir sambil setor nyawa.
Perbedaan (1) Kursinya nyaman, bersih; dan (2) tidak ada aroma Stella jeruk.

Perjalanan dari Incheon ke Jinju memakan waktu kurang lebih 5 jam. Aku menikmati perjalanan dengan tidur, bangun, dan tidur lagi. Ini adalah satu-satunya caraku untuk menghindari mabuk akibat naik bus. Tapi, ya... Kalau ada yang bilang "usaha tidak akan sia-sia", kali ini, usahaku sia-sia. Sesampainya di Gaeyang, Jinju, isi perutku keluar akibat mabuk darat. Belum sehari udah ada dua cerita menjijikkan. Maaf, ya... tolong jangan kapok dengan ceritaku.

Di Gaeyang, Jinju, aku dijemput oleh dua senior yang juga alumni dari Universitas Jember —saat ini sedang studi di Gyeongsang National University. Mereka terbaik! Aku dijemput, dibawakan bantal dan beberapa bahan masak, dibelikan ayam goreng Korea, ditemani makan, sampai ditemani belanja di Daiso! Terima kasih, Mbak, Mas, yang namanya tidak kusebutkan di sini ~

Aku dan salah satu seniorku memilih untuk naik taksi ke gedung yang akan menjadi tempat tinggalku, sementara seniorku yang lain memilih untuk naik skuter. Ya! skuter yang dikendarai sambil berdiri itu. Jaraknya dekat, sekitar 5 menit saja dari bus stop dekat persimpangan. Setelah sampai, aku langsung membuka pintu di sebelah kiri. Tiba-tiba, sopir taksi-nya berteriak, intinya aku tidak boleh keluar lewat sisi kiri. Akhirnya, aku tutup lagi pintu itu. Tapi, sopir taksi-nya malah membukakan pintu sisi kiri untukku, sambil bilang, "빨리빨리~ 위험해... 위험해". Ternyata, bahaya untuk keluar dari sisi kiri.

Ah... ada satu culture shock lagi hari itu. Ceritanya dimulai dari salah satu seniorku yang akan menemani kegiatan belanja pertamaku di Daiso. Kami boncengan naik skuter. Di sini, skuter dan sepeda bebas untuk dipakai, caranya cukup scan barcode untuk melakukan pembayarannya. Hmm... Pertama kalinya naik skuter dan menjadi penumpang, bukan supir. Rasanya lucu, sulit dideskripsikan, tapi seolah akan jatuh atau terbang. Sesampainya di Daiso, aku terkejut karena di sini semua serba cepat. Mulai dari pilih dan ambil barang, sampai membungkus barang belanjaan dan melakukan pembayaran. Jadi, buat teman-teman yang nanti pengin berkunjung ke Korea, siapkan semuanya lebih awal setiap mau membeli sesuatu, mulai dari list barang yang akan dibeli, gerak cepat memasukkan barang belanjaan ke dalam tas belanja, dan keluarkan uang atau kartu debit sebelum kasir selesai scanning barcode barang-barang yang kalian beli.

Setelah itu, aku kembali ke kamar kos. Aku tutup hari pertamaku dengan bersih diri dan beberes kamar. Lalu, tidur! Akhirnya~

Dah... itu tadi adalah hari pertamaku di Korea. Tidak menegangkan sama sekali, tapi cukup mengejutkan. Apalagi di bagian angkat koper sendiri😭 Anyway... terima kasih sudah membaca, sampai jumpa di cerita selanjutnya!

---------------------------------------------------------------------------------
Culture shock list - Day 1
1. Bahasa Inggris hampir tidak membantu
2. Naik bus di Korea harus bisa angkat koper sendiri
3. Tidak boleh turun dari kendaraan melalui sisi kiri
4. Semua serba cepat

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer