Beli Sepeda Bekas di Korea!
Puncak kesulitan berkomunikasi, bagian 1~
Pagi ini, aku membuka catatan di handphone-ku untuk melihat daftar kegiatan yang harus aku lakukan dalam sehari. Yap! Aku membutuhkan sebuah sepeda. Harga sepeda baru di Korea cukup mahal, dimulai dari 200.000 won. Dengan uang saku yang terbatas, aku harus pandai mengatur uang hingga akhir bulan depan --sampai uang beasiswa turun. Jadi, aku memutuskan untuk membeli sepeda bekas saja, dengan rentang harga 60.000 sampai 120.000 won.
Aku berjalan dengan penuh rasa antusias ke 화랑 자전거 (Sepeda Hwarang). Seperti biasa, memasuki toko atau tempat di Korea harus diusahakan untuk menyapa. Cara yang paling sederhana yaitu dengan sekadar mengucap 안녕하세요~ (annyeonghaseyo/halo). Aku menghampiri 선생님 penjual sepeda bekas itu dengan menanyakan, "혹시 여기서 중고 자전거 판매하나요? (apakah di sini menjual sepeda bekas?"
선생님 penjual sepeda bekas itu langsung paham dengan tujuanku datang ke toko itu. Beliau langsung tersenyum, menganggukkan kepalanya, dan bergegas menunjukkan satu sepeda bekas kepadaku. Warnanya putih, bentuknya seperti sepeda untuk perempuan, hanya saja tanpa keranjang. Aku meminta untuk dipasang keranjang, satu kunci, serta tambah angin untuk masing-masing roda depan dan belakang. Semua itu kudapatkan dengan harga 90.000 won saja! Tidak terlalu murah, tapi juga bukan yang paling mahal. Cukup murah untuk sejenis sepeda bekas untuk perempuan. Oh, iya! Aku tidak diperbolehkan membayar sebelum memastikan bahwa sepedanya masih layak pakai. Baik banget, kan, 선생님-nya. Ucapnya, "you drive... drive... yes?😊😁👍"
Sepeda itu aku bawa berkeliling sebentar saja, kemudian kembali ke toko. Aku mengatakan kepada 선생님 bahwa sepedanya masih layak pakai. Katanya, "good? good?😃👍"
"Yes! It's good!😃👍" jawabku, kemudian ditambahkan dengan satu permintaan karena sadel sepedanya terlalu rendah. "이거는.... (sambil menunjuk sadel), up 👆 up👆," tambahku. 선생님 kemudian menaikkan sadel sepedaku sembari mengatakan "어... 옼에이... 옼에이."
Setelah test drive, aku membayar sepeda itu, lalu 선생님 menuliskan data tentang diriku di buku catatan penjualannya. Beliau kaget ketika mengetahui aku berasal dari Indonesia. Sorot matanya menunjukkan kalau beliau bahagia telah bertemu denganku. Akupun keluar dan menunggu di depan toko itu sembari membaca arah yang ditunjukkan oleh Naver Map, menuju ke tempat berikutnya. Tiba-tiba, 선생님 menghampiriku sambil menunjukkan sebuah nama orang Indonesia di handphone-nya. Lucunya, beliau menanyakan cara membaca nama tersebut. Jadi, selama beberapa menit kami saling berbincang tentang cara membaca nama orang Indonesia. Beliau dengan mata yang berbinar-binar mengatakan, "이 사람은 또 인도네시아에서 왔어 (orang ini juga datang dari Indonesia)."
"네, 마자요 선생님 (iya, betul, pak)," jawabku sambil tersenyum senang juga.
Beliau terkikik pelan, lalu menambahkan lagi, "경상 대학생 (dia mahasiswa di Gyeongsang National University (GNU))."
Akupun kembali merespons dengan antusias karena aku juga bersekolah di tempat yang sama, "어? 저도요, 저도 경상국립대하교 가요, 선생님 (oh, aku juga bersekolah di GNU, pak)."
"Oh... very nice... very nice," jawabnya.
"아니요... 감사합니다, 선생님 (terima kasih, pak)," kataku sambil sedikit membungkukkan badan untuk menunjukkan rasa hormat kepada beliau.
Sebelum menutup percakapan dan beranjak pergi, aku menanyakan nama beliau karena aku merasa sangat diterima ketika berbincang dengan beliau. "쵀송한데... 선생님이 이름이 뭐해요 (maaf sebelumnya, nama bapak siapa?"
"오재현이야... 오재현 (nama saya Oh Jae Hyeon)," jawabnya dengan tersenyum ramah.
"아... 알겠읍니다. 그럼연, 감사합니다 오재현 선생님 (baiklah. kalau begitu, terima kasih, Pak Oh Jae Hyeon)," ucapku terakhir kali sebelum beranjak pergi.
"어... bye bye👋," beliau tersenyum sambil melambaikan tangannya sesaat aku pergi.
Selama perjalanan menuju ke titik perhentian selanjutnya, aku masih keheranan dengan sifat baik dan ramah dari seorang penjual sepeda bekas, Pak Oh Jae Hyeon. Kalau kemarin sudah dapat perlakuan baik dari Ibu dan Bapak di minimarket, sekarang tahta tertinggi keramah-tamahan seorang warga Korea Selatan dipegang oleh Pak Oh Jae Hyeon.
Lanjut! Aku menuju ke konter handphone di dekat gerbang utama GNU. Menuju kesana-kemari di Korea ternyata sangat mudah, asalkan sudah ada aplikasi Naver Map atau Kakao Map untuk membantu sebagai penunjuk jalan.
Pertama kali masuk, langsung kusampaikan bahwa aku membutuhkan nomor Korea. Percakapan antara aku dan Mas-Mas penjaga konter benar-benar diuji. Ia tidak bisa berbahasa Inggris, sedangkan aku tidak bisa berbahasa Korea. Akhirnya, seperti biasa, kami berkomunikasi sambil saling menyodorkan handphone yang sedang menjalankan aplikasi bahasa. Mas itu bilang, kalau aku tidak bisa membeli nomor Korea jika belum memiliki Alien Registration Card (sejenis Kartu Tanda Penduduk). Aku dengan sedikit bingung, memastikan kembali, bahwa aku ingin membeli nomor Korea prepaid plan (prabayar) menggunakan identitas berupa paspor.
Ternyata, kalau belum punya ARC, orang asing hanya bisa membeli nomor Korea yang prabayar. Jadi, buat teman-teman yang mau datang ke sini dan membeli nomor Korea, jangan lupa bilang "prepaid plan", ya!
Awalnya, si Mas hendak mendaftarkan identitasku untuk provider LG U+ karena ada paket dengan harga termurah. Sayangnya, pihak LG U+ mengatakan bahwa handphone tipe Redmi Note 10 Pro tidak kompatibel dengan provider mereka. Sehingga, si Mas memutuskan untuk mendaftarkan identitasku ke provider KT dengan harga yang menurutku cukup mahal; kartu sekaligus biaya adminnya mencapai 43.700 won. Yah... apa boleh buat? Ini juga untuk melancarkan kehidupanku di sini selama dua tahun ke depan. Selanjutnya, aku diminta untuk menunggu sekitar dua puluh menit untuk registrasi. Sebelum itu, aku diminta untuk memilih empat angka untuk menjadi empat digit terakhir dari nomor teleponku yang baru. Bisa begitu, ya, ternyata.
Setelah berhasil registrasi dan mendapatkan nomor Korea, aku membayar dan mengucapkan terima kasih sebelum berpamitan. "정말 감사합니다 (terima kasih banyak)," kataku sembari membungkukkan badan. Si Mas, dengan akrabnya membukakan pintu untukku dan membalas "어... 가...👋," sambil melambaikan tangannya.
Lalu, aku bersepeda dengan perasaan yang cukup bertanya-tanya. Katanya, orang Korea banyak yang rasis dan kasar. Tapi, aku belum menemukan satu pun yang seperti itu. Syukurlah, tiga hari di Korea dipertemukan dengan orang-orang yang ramah dan sabar.
Hari ketiga aku akhiri dengan menikmati suasana sore di taman Institut Teknologi Yonam yang lokasinya sangat dekat dengan kosku~
Itu dulu, ya. Terima kasih sudah membaca. Besok jangan lupa mampir lagi~
___________________________________________________________
Catatan~
Ada beberapa hal yang aku pelajari selama di konter itu: (1) orang asing tanpa ARC bisa membeli kartu prabayar Korea dengan menggunakan identitas yang tertulis di paspor, (2) tidak semua provider (SKT, KT, dan LG U+) cocok untuk tipe handphone yang dipakai, (3) pengguna nomor Korea bebas menentukan empat digit terakhir dari nomor telepon yang baru, kecuali angka 1234 secara berurutan.


Komentar
Posting Komentar