Jurus 아... 네... 알겠읍니다 untuk menghilangkan cengoh yang membandel~

Habis satu, apa? dua~ Komedinya sudah habis di hari pertama!

Bangun tidur sudah kelaparan, tapi masih belum bisa menyalakan kompor. Kompor Korea terasa aneh buatku karena suara dan bau gasnya benar-benar jelas, hal itu membuatku takut untuk menyalakan kompornya. Jadi, satu-satunya cara untuk menyiapkan makanan adalah menggunakan microwave. Bangkitlah aku dari kasur dengan hati yang riang gembira, semangat untuk makan nasi instan Korea. Setelah aku atur waktu microwave-nya, aku tidak bisa berkata-kata. Microwave tidak mau menyala, sedangkan aku sudah lapar gila. Ternyata, kabel olor yang aku bawa dari kota Jember tercinta sudah tidak berfungsi. Aneh sekali, padahal malamnya aku masih bisa menghangatkan ayam goreng crispy. Akhirnya, dengan bersedih hati, aku memutuskan untuk segera mandi supaya bisa lekas pergi ke Daiso.

Tiga puluh menit kemudian, aku sudah siap. Bersih dan wangi seperti tumpukan baju yang baru pulang dari tempat laundry. Dikira akan semudah itu; bersiap lalu berangkat, ternyata tidak. Aku harus menunggu 집주인늠 (pemilik gedung) —kalau di Indonesia bilangnya "Bapak Kos" yang sedang perjalanan menuju ke kamarku untuk mengajari cara menyalakan kompor, pemanas lantai dan air, serta cara mengganti pin pintu kamar. Satu jam berikutnya, seseorang mengetuk pintu kamarku. Tok tok tok... Lalu, aku buka pintunya. Bukannya bilang "안녕하세요~" malah meringis sambil mengeluarkan udara dan suara dari mulut "😬 eheh...😅,"  layaknya orang Indonesia pada umumnya.

"집주인 입니다," katanya sebelum melangkahkan kaki ke dalam kamarku.
Bapak Kosku mulai menyalakan kompor dan memberi instruksi tentang pemanas lantai dan air. Beliau menjelaskan dengan bahasa Korea sepenuhnya, sedangkan aku, berdiri di sampingnya sembari menjawab menggunakan intuisi. Orang asing di Korea belum paham bahasanya, password-nya? 아.. 네.. 네.. 알겠습니다......✊😭. Sayangnya, pura-pura mengerti juga tidak selamanya membantu. Akupun mulai mengaku, "저는 한국어... 아직🙅🏻‍♀️🤷🏻‍♀️."

Bapak Kos yang baik hati dan sabar akhirnya mengeluarkan handphone  dari sakunya dan mulai memberikan instruksi dengan bantuan aplikasi penerjemah. Begitu juga dengan aku yang cuma bisa manggut-manggut setiap beliau menanyakan "you understand?" dengan aksen Korea-nya yang kental. Aku sudah seperti mainan yang menempel di dasbor mobil yang kalau enggak manggut, ya, geleng...

Bagian paling membuatku bingung adalah ketika beliau mengajarkanku cara mengganti pin pintu kamar. Bahasa yang terbatas, dan kecepatan berpikir yang berbeda membuatku agak bingung. Yah... di saat itu bisa dibilang aku "cengoh" karena tidak paham ketika disuruh menentukan pin baru dalam waktu yang tiba-tiba. Dalam hatiku, "ya Allah mandar iling pin e, iki mendadak banget moro dikon ganti pin dalam sekejap, aamiin." Tit tut tit tut tut tiiit (bunyi tombol kunci pintu kamar). Lalu, kamarku sudah resmi dikunci menggunakan pin yang baru! Aku bersyukur Bapak Kos sabar dalam menjelaskan semuanya, meskipun di beberapa penjelasannya kita berbincang sambil bertukar handphone dengan pertanyaan dan jawaban yang ditranslasikan menggunakan aplikasi. Agak struggle, kalau kata Gen Z.

Beres urusan kamar, aku langsung berangkat menuju Daiso. Kesan pertama merasakan berjalan kaki di Korea di siang hari; panas banget! Kalau mau disalahkan karena keluar kos di siang hari, tidak adil juga. Panas di Indonesia dan di Korea beda, entahlah, padahal angin di sini selalu berhembus kencang. Ya... walaupun begitu, tetap saja sumuk. Sesampainya di Daiso, aku yang awalnya hanya ingin membeli kabel olor, tiba-tiba ingin menyomot talenan, rak es batu, sapu mini, baskom mini, gantungan baju, dan pengharum ruangan. Banyak juga, ya, kenapa tidak sekalian saja beli seluruh isi Daiso? Hahaha... Sudahlah, tidak akan merugi juga. Menyebalkan sekali, kabel olor yang menjadi targetku justru paling sulit ditemukan. Aku menyusuri lantai dua Daiso secara perlahan, mataku memindai pelan dari kiri ke kanan, atas ke bawah. Fix... Enggak ada ini mah. Akhirnya, mau tidak mau, aku harus bertanya. Aku menunjukkan handphone dengan gambar kabel olor, sambil menanyakan "저기요, 여기서 이거를 판매하시나요?"

Jangan terpukau dulu, aku pakai aplikasi translator☺️🙏

Si Ibu menjawab, "1층에👇.. 1층에👇.."

Aku pun kembali ke lantai satu dan menghabiskan beberapa menit untuk memindai sekitar. Ternyata, kalau sedang di negara orang, mulut ini suka terlepas dengan sendirinya. Contohnya, saat bingung mencari barang, "Mana, sih, katanya di lantai satu???" kataku. Setelah beberapa helaan nafas, akhirnya aku menemukan kabel olor raib itu. Belanja di Daiso sudah selesai~ saatnya aku pergi ke minimarket. Aku memasuki GS25 dan langsung menanyakan air mineral karena aku tidak bisa menemukannya di selasar mereka, "do you sell mineral water?", si Ibu menjawab "아... 물?"

"네, 그리고 쌀 있어요?", kataku, menanyakan tentang beras.
"쌀은 없어, 근데 이 옆에는 있어."

Ternyata, GS25 tidak menjual beras. Si Ibu mengarahkan aku ke toko lain. Aku tidak ingat nama tokonya, tapi dia tepat di samping GS25. Hari itu, aku sudah terlalu pusing dengan bahasa Korea, sehingga aku masuk ke toko dan bertanya tanpa basa-basi. Langsung saja, "저기... 쌀?" 😭😭

Sejujurnya, malu. Masa, sih, datang ke toko orang cuma bilang "Anu, beras." Untung saja bukan di Indonesia, takutnya malah jadi ikut tren TikTok "Anu, pangku mas." Istighfar ya adik-adik...

Hari itu, aku beruntung lagi karena Bapak yang melayaniku baik sekali. Beliau tidak keberatan menunjukkan letak beras di dalam minimarket-nya. Beda banget, kan, sama perlakuan sopir bus kemarin. Akupun pulang dengan hati yang bahagia karena dilayani dengan baik, walaupun hati kecilku agak tersayat setelah sadar sudah menghabiskan cukup banyak uang untuk membeli perlengkapan kos.

Selesai~ itu cerita hari kedua. Ternyata tidak semua orang Korea cuek, dingin, dan tidak peduli. Ada juga yang baik, contohnya seperti Bapak Kos, Ibu yang bekerja di GS25, dan Bapak di minimarket sampingnya. Sepertinya, mereka akan memperlakukan kita dengan lebih baik kalau kita mau berinteraksi menggunakan bahasa mereka, meskipun dengan kemampuan bahasa yang terbatas.

Besok kita buktikan teori itu, ya!

Komentar

Postingan Populer