Beli tomat satu aja, boleh nggak?

Setelah beberapa kebutuhan kos dan kuliah terpenuhi, saatnya aku untuk menjelajahi Gyeongsang National University (GNU). Jarak antara gedung kosku dengan laboratorium kami di GNU adalah 1.3 km. Hari ini, aku berencana untuk ikut-ikutan berangkat ke kampus –menjadi ekor dari teman dan seniorku yang sudah bekerja di laboratorium. Temanku bilang, kalau hari ini kita akan berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. Katanya sih, jaraknya dekat. Aku dan temanku percaya saja dengan seniorku yang bilang jarak kampusnya dekat. Ternyata, untuk orang yang baru beberapa hari di Korea, jarak itu cukup jauh. Apalagi selama di Indonesia jarang sekali beraktivitas dengan berjalan kaki. 

Yang benar saja, setelah memasuki lingkungan kampus, kami tidak segera sampai di laboratorium. Hawa yang panas dan rasa tidak sabar yang tinggi, temanku terus-terusan melontarkan pertanyaan yang sama setiap kali melewati gedung di lingkungan kampus. “Jek adoh to mas? (Masih jauh kah mas?)”, katanya. Aku yang sungkan untuk menanyakan hal yang sama, hanya bisa menahan senyum setiap dia menanyakan itu. Jujur, aku juga ingin cepat sampai… ใ… ใ… 

Oh iya… Natural Sciences Department ada di gedung 352. Biasanya, gedung ini dipakai untuk pelaksanaan kegiatan kuliah dan seminar mingguan. Selain itu, ruangan Profesor kami dari Organic and Semiconducting Materials berada di gedung ini, begitu juga dengan laboratorium Kimia. Tempat kerja kami sementara waktu berada di gedung 403, gabung dengan mahasiswa Teknik. Jadi, kami harus berjalan dari gedung 403 ke gedung 352 setiap ada perkuliahan.

Lanjut, ya~

Akhir musim panas dan naik-turun jalan menuju kampus benar-benar membuat kami merasa sia-sia sudah mandi pagi. Keringat yang bercucuran berhasil menghapus make-up tipis dan membasahi baju kami di bagian punggung, dada, dan ketiak. Awalnya, aku dan temanku ingin memberikan kesan pertama yang baik ke orang-orang di lingkungan kampus dengan berpakaian rapi dan make-up tipis supaya terlihat rapi dan cantik. Niat itu terhapus begitu saja karena kami sampai di kampus seperti orang yang habis berlari; baju basah, wajah berkeringat dan berminyak, dan sedikit bau –karena aroma wewangiannya terhapus selama berjalan di bawah terik matahari. Sejak saat itu, kami memutuskan untuk berangkat ke kampus hanya dengan tabir surya, jadi, tidak ada problematika bedak luntur.

Selama di kampus, aku menyadari banyak hal yang berbeda dari lingkungan kampus di Indonesia. Mahasiswa di sini hampir tidak ada yang berpakaian rapi (celana kain dan kemeja). Mayoritas dari mereka menggunakan celana olahraga dan kaos –dengan templat warna pakaian yang sama, kalau tidak hitam, abu, ya putih. Selain itu, mahasiswi di sini memakai riasan yang cukup tebal. Hebatnya, riasan itu tidak luntur sama sekali. Jangankan berbicara tentang lunturnya riasan, keringat saja tidak terlihat sama sekali. Entah hanya pengamatanku yang kurang baik, atau memang faktanya begitu, tapi hampir tidak ada orang Korea yang bajunya basah karena keringat saat perjalanan ke kampus. Padahal, mereka lebih memilih untuk berjalan kaki dibandingan bersepeda atau naik sekuter. Aneh ya… sepertinya kalau kalian bertemu ada orang dengan baju basah keringat, itu orang Indonesia ((((lebih tepatnya, itu aku)))๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ.

Sembari menunggu, aku berjalan mengelilingi kampus untuk mencari gedung 29 yang akan menjadi lokasi orientasiku di 30 Agustus 2024 nanti. Seperti biasa, kita nyasar-nyasar dahulu, oh.. oh.. ini.. kemudian. Aku menghabiskan sekitar empat puluh lima menit duduk di tempat rimbun dekat gedung 29, sampai temanku memberi kabar bahwa sekarang dia sudah bisa pulang.

Kami berjalan menuju ke kos temanku. Di tengah perjalanan, mulai muncul keinginan yang tidak masuk akal, terutama untuk mahasiswa internasional yang gaji kerja lab-nya belum turun. Yap… kami pengin beli ayam goreng. Sekadar informasi untuk teman-teman, kalau di Korea, ayam termasuk makanan yang cukup mahal, apalagi orientasi keuangannya masih berpusat ke mata uang rupiah. Kami dengan kesadaran diri penuh, memutuskan untuk membeli satu ekor ayam goreng. Tanpa berpikir panjang dan khawatir akan tanggal tua, kami melahap daging ayam yang empuk, gurih, dan juicy itu. Hmmmm… serius enak banget!!!  

Sayangnya, rasa nikmat ayam goreng itu tiba-tiba hilang sejak kami dengan bodohnya memasangkan lauk itu dengan nasi kuning dan saus gochujang (saus pedas korea yang ada sedikit rasa asamnya). Iya… bayangin aja. Gurih, pedas, asam, campur rasa kunir… yaampun nangis. HAHAHAHA๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Hebatnya, kami berhasil menghabiskan makanannya!

Setelah makan siang, aku kembali ke kos, lalu istirahat, sebelum kembali beraktivitas di sore hari.

Sore ini, aku memutuskan untuk belajar naik bus dalam kota, di Jinju. Langkah pertama, aku harus memastikan saldo kartu transportasi, tujuan, dan rute bus yang tepat. Jujur saja, perasaanku tidak keruan. Antara antusias dan takut mau naik bus dalam kota untuk pertama kalinya.

Benar saja, setelah menempelkan kartu transportasi ke mesin transaksi, pak sopir langsung menarik gas. Bus berjalan begitu cepat. Aku dengan paniknya langsung duduk di kursi sebelah kanan depan. Setelah aku tengok di dinding busnya, tertulis kalau kursi itu untuk ibu hamil, para lansia, dan orang-orang yang cidera. Aku langsung berdiri dan pindah ke kursi belakangnya, pas di samping ibu-ibu bertopi merah muda. Dengan percaya diri-nya, aku menundukkan kepalaku sambil tersenyum. Ternyata, kursi itu juga bukan untuk manusia seperti aku. Astaga... malu banget, mana udah pindah... pindahnya salah๐Ÿ’€๐Ÿ˜ญ Akhirnya, aku berlagak seolah tidak tahu saja. Lalu memilih untuk berdiri dan berpegangan sampai halte pemberhentianku.

Dan… sampai! Aku hanya perlu berjalan kaki beberapa menit untuk nyore di Sungai Nam. 

Sesampainya di Sungai Nam, aku melihat seekor induk kucing dan dua anaknya. Aku senang sekali! Ini pertama kalinya aku melihat kucing sejak empat hari di Korea. Tapi, sayang, mereka kabur karena mendengar suara sandal gemoy-ku yang jedum-jedum. Aku lanjut menyusuri hutan bambu dan turun ke jalur pejalan kaki di sepanjang Sungai Nam. Tempat ini terlalu indah untuk dinikmati sebentar saja, jadi aku memutuskan untuk duduk di atas batu besar di pinggir Sungai. Setelah menghabiskan satu jam lebih di menikmati Sungai Nam, aku menyadari sesuatu. Seperti biasa, otakku sering hilang sinyal, jadi agak lemot. Ternyata, di seberang Sungai Nam ada Jinjuseong Fortress! Aku menyesal baru melihatnya sekarang. Padahal, aku tahu benteng itu ada di dekat sini. Tapi, aku tidak mengira akan sedekat itu dengan Sungai Nam. Sayang sekali, matahari sudah mulai tenggelam dan aku sudah mulai lelah. Jadi, aku tetap duduk di atas batu itu sambil terus bertanya-tanya, melihat ke arah Jinjuseong Fortress, “daritadi ngeliatin apa sih… kok baru sadar bentengnya ada sedekat itu.” Yah… setidaknya aku bisa menikmati senja di sini๐Ÿ˜–.

(Kiri: Jinjuseong Fortress; Kanan: Matahari terbenam di Sungai Nam)

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, aku harus cepat pulang karena sudah memasuki waktu salat maghrib dan aku masih harus belanja di Hanaro Mart.

Sebenarnya, aku ingin membeli buah, sayur, dan lauk untuk satu minggu kedepan. Apapun selain tahu dan terong. Aku cukup terkejut dengan harga buah di Korea yang ternyata bisa dua sampai tiga ribu won hanya untuk satu buah. Begitu juga dengan tomat yang kalau beli harus se-wadah besar dengan harga 6000an won, kalau tidak salah. Aku memberanikan diri untuk bertanya, "ํ† ๋งˆํ†  ํ•˜๋‚˜๋งŒ ์‚ฌ๋„๋ ๊นŒ์š”? (tomato hanaman sado doelkkayo? / tomatnya boleh beli satu aja nggak?)". Ibu kasir menjawab dengan tegas, "๐Ÿ™…๐Ÿป‍♀๐Ÿ™…๐Ÿป‍♀ ์•ˆ๋ผ์š” (andwaeyo/nggak boleh)". Dengan hati kecil yang sedikit tersakiti, aku tidak jadi membeli tomat dan hanya membeli satu buah pear seharga 3,700 won. Oh… tahu dan terong lagi… sama kubis. ๊ดœ์ฐฎ์•„ (gwaencanha/gapapa) kata gue teh๐Ÿ˜ญ

Sesampainya di kos, aku langsung bebersih diri. Ganti baju dan salat, lalu berangkat ikut teman-teman main badminton. Yang ternyata, nggak jadi main karena lapangannya sedang dipakai turnamen. Akhirnya, kami nongkrong di warung dekat gerbang belakang GNU untuk menikmati odeng dan jus. Malam ini, aku meminum jus buah peach pertamaku! Enak!!!!! Aku suka sekaliiiii. Akhirnya naik level, dari nyeruput "peach tea" Mixue, ke jus buah peach beneran๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜ผ

Udah, deh, itulah hari keempatku di Korea. Besok ikut aku, seharian nggak ngapain-ngapain ya~

 

Komentar

Postingan Populer