Hari kedelapan di Jinju! Dimarahin sopir taksi ㅠㅠ

Setelah seharian merebahkan diri di kasur –tidak ada kegiatan selain makan dan tidur –akhirnya, aku harus bersiap diri untuk menghadiri agenda makan malam bersama di rumah salah satu seniorku. Aku tahu, waktu tempuh antara rumah kami sekitar 30 menit jika berjalan kaki. Namun, tetap saja, sebagai orang Indonesia tulen, aku dan tetanggaku berangkat jam lima kurang lima belas menit di sore hari, ketika acaranya dijadwalkan jam enam sore. Gimana? Kami masih “Indonesia” banget kan?

Rumah yang kami tuju berada di dekat asrama kampus, sehingga kami berjalan masih searah menuju kampus. Kami melihat semak berbunga yang rimbun di sepanjang jalan. Namanya bunga telekan kalau di Indonesia. Sesekali berjalan sambil nengok ke kiri untuk curi-curi pandang dengan kucing di sini. Sepertinya, di sini ada sebagian pemukiman warga. Jadi, kalau diperhatikan, ada beberapa rumah sederhana dan perkebunan pribadi yang bisa ikut dinikmati. Pakai mata, alias dilihat saja, ya… tidak dikonsumsi. Hahaha… Anyway, nih, cuplikan pemandangan sepanjang jalan yang bisa teman-teman nikmati.


Setengah perjalanan, kami mempercepat langkah kaki supaya lekas sampai dan terhindar dari branding “orang Indonesia pasti ngaret”. Ya… walaupun kami secara sadar berangkat dari rumah lima belas menit sebelum acara. Ternyata, setelah sampai, kami adalah dua orang pertama yang datang, dari empat orang yang diundang. Tahu gitu, jalan santai saja, ya? Hehehe.

Setelah kami, ada satu lagi yang datang sambil membawa jajan mirip macaroon. Aku tidak ingat persis Namanya, tapi bentuknya seperti marshmallow yang diapit dengan dua biskuit dan diselimuti cokelat. Enak sekali, rasanya! Lembut, renyah, dan manis dalam satu gigitan –membuatku berpikir, tentang alasanku datang kemari dengan tangan kosong. Seharusnya, aku bawa buah tangan, kan? Mungkin, pikiranku berorientasi pada makan malam yang telah dihidangkan dan siap untuk dimakan. Jadi, aku pikir, tidak perlu membawa makanan dari rumah.

Sudah cukup dengan pikir panjang tentang datang tanpa membawa apa-apa karena tamu terakhir telah tiba, dan kami siap menyantap makan malam!

Sempurna! Seperti di Indonesia! Rendang, ayam goreng, sambal terasi, sayur sop, pentol, lumpia, kerupuk, dan es lidah buaya –kalau aku tidak salah ingat, itu es lidah buaya. Kalau salah ingat, sebut saja, kami minum “es”. Aku membuka makan malamku dengan pentol. Mungkin tiga sampai empat buah. Selanjutnya, aku mengambil porsi makan besar; nasi putih, rendang, sayur sop, sambal terasi, dan kerupuk. Aku rasa, lidahku terlalu rindu dengan masakan Indonesia, terutama sambalnya. Jadi, langsung saja aku ambil sebanyak satu sendok makan –dan berakhir dengan mulut yang terbakar. Sambalnya pedas banget! Seolah aku sudah terlalu lama tidak memakan itu. Terlebih lagi, makanan-makanan pedas di Korea tidak memiliki level yang sama dengan Indonesia. Mau tidak mau, aku menghabiskan makanan di piringku secara perlahan. Bukan karena mengambil terlalu banyak atau sudah kenyang, tapi karena rasa sambal yang terlalu pedas, dan aku harus terlihat baik-baik saja. Hahaha… takut malu… soalnya udah kebanyakan ambil sambalnya.

Makan malam telah usai, saatnya lanjut ke cerita “pungut-pungut barang hibah”. Selain pulang dengan membungkus lauk-pauk, kami berdua harus pulang dengan membawa empat tas besar berisi barang-barang hibah, seperti gelas, piring, baskom, gantungan baju, dan selusin macam lainnya. Oh, ya… kami juga harus membawa kasur untukku yang kalau digulung-pun masih tidak bisa dipeluk. Alias, gedhe banget!!!!!

Akhirnya, tuan rumah memutuskan untuk memesankan kami taksi, supaya tidak kesulitan membawa barang yang begitu banyaknya. Kami menunggu selama kurang lebih lima sampai delapan menit, sampai sebuah mobil terlihat di sekitar dua puluh meter dari tempat kami makan malam. Setelah beberapa pengalaman di Korea –yang apa-apa harus serba cepat. Saat itu juga, kami berlari menuju ke mobil dan berusaha membuka bagasi. Bingung tidak keruan karena tidak menemukan “bagian” untuk membuka bagasinya. Tidak lama, bagasinya terbuka. Oh… ternyata itu mobil listrik dengan tombol pembuka bagasi di bagian dasbor. Kami segera memasukkan semua barang bawaan dan lupa kalau pintunya tidak ditutup dengan cara manual. Jadi, kami berusaha menutup bagasi seperti biasanya. Tiba-tiba, ada suara sentakan yang terdengar dari dalam mobil sampai ke luar bagian belakang. Kami kaget. Pak sopir berteriak, entah bagaimana sebutannya dalam bahasa Korea –yang jelas, kami paham kalau ia tidak mau pintu bagasinya ditarik ke bawah, seperti kalau akan menutupnya secara manual. Mungkin, “hey! Jangan disentuh pintunya!” kalau dalam bahasa Indonesia. Beberapa kali kami dengar Pak sopir menghela nafas dan melempar kata-kata kasar khas Korea –tanpa dipikirpun, kalian juga pasti tahu ketika orang Korea sedang marah atau kesal.

Kami terpaku seketika. Takut dan bingung karena belum pernah dapat perlakuan seperti ini sebelumnya. Pak sopir menuju ke belakang, menata ulang barang-barang kami, dan menutup pintu bagasinya. Setelah itu, aku dan teman satu kosku cepat-cepat masuk ke dalam mobil. Tanpa sadar, mungkin pintunya kurang rapat. Jadi, sekali lagi Pak sopir membentak. Kami belum mengerti banyak tentang bahasa Korea. Kami kira, ada masalah dengan jendelanya. Jadi, kami hanya menaik dan menurunkan jendela, bukannya menutup pintu. Beliau turun, kemudian menutup pintu penumpang belakang dengan keras. Pada saat itulah, kami sadar, wah… mala mini mati, nih, kita. 🥹

Perasaan gundah menetap di hati kami selama perjalanan karena sebelum menancap gas, Pak Sopir marah lagi, “한국어 못해??? 진짜…” (hangukeo mothae??? ahh jinjja/nggak bisa bahasa Korea, kah??? ahh yang benar saja). Memainkan kaki atau jari tangan –apapun asalkan hati bisa terasa lebih tenang. Perjalanan yang seharusnya hanya delapan sampai sepuluh menit jadi terasa lebih lama. Kami berdua malah tidak berani mau memberi isyarat untuk berhenti di sebelah kanan, di depan gedung dekat ujung jalan. Akhirnya, kami berhenti dan turun di depan gedung berjarak satu blok dari kos. Pak Sopir berubah jadi baik dan ramah, bahkan mengucap, “잘가요~ (jalgayo/selamat tinggal). Memang sekadar ucapan perpisahan, tapi terdengar janggal karena sebelumnya sempat marah pakai bahasa informal dan kasar, tiba-tiba pakai bahasa yang sopan. Aku dan temanku sempoyongan membawa banyak barang menuju ke kamar –di lantai tiga –seperti orang yang baru selesai memungut banyak barang di pinggir jalan (di Korea memang banyak barang bagus tidak terpakai yang ditaruh sembarangan saja di pinggir jalan).

Sesampainya di kamarku, kami tidak sempat membahas tentang pengalaman menegangkan yang baru saja terjadi.  Kami belum pernah bertemu dengan orang Korea yang seperti itu sebelumnya.

Temanku memilih beberapa dari sekian banyak barang yang kami bawa dan ingin segera kembali ke kamarnya karena lelah. Aku yang masih tidak habis pikir dengan perilaku Pak Sopir dan setumpuk barang yang berantakan, tidak kuasa menahan rasa kesal akibat akan ditinggal pulang. Apa maksudnya? Aku harus membereskan semua ini sendirian? Kalau dia lelah, aku pun juga. Tapi, aku tidak bisa apa-apa. Jadi, aku menarik nafas panjang, dan mengatakan, “mbak, udah, gapapa. Mbak pulang aja, istirahat. Biar ini aku yang bereskan. Aku udah nggak mood, takut marah. Jadi, mbak pulang aja, atau aku usir,” sambil membuka pintu dan mengucapkan salam perpisahan.

Entahlah, itu cara yang baik atau buruk. Tapi… wow… bisa juga, ya, mulutku mengucapkan kata-kata seperti itu. Lalu, aku menangis karena merasa terlalu kewalahan dengan semuanya pada malam ini. Jangan salah paham, ya, aku dan tetangga kosku ini berteman baik. Kami sering main, makan, dan belanja bersama. Hanya saja, malam ini jiwa "bocah nangisan"-ku keluar... 😭 

Tak lama kemudian, senior yang mengadakan makan malam meneleponku. “Karin, kalian sampai rumah dengan selamat, kan? Aku disini terpaku sampai mobil kalian bener-bener menghilang dari hadapanku. Selama di Korea, baru kali ini aku dapat perlakuan seperti itu,” ucapnya. Yang benar saja, dia yang sudah hampir tiga tahun di Korea (kalau tidak salah), baru dapat pengalaman itu. Bagaimana aku dan teman kosku yang 🎶belum ada satu bulan 🎶~ ~  😭

Malah nyanyi…

➖➖ ➖➖ ➖➖➖➖

Sudah, guys. Itulah cerita di hari kedelapan. Makanan Indonesia dan asal-usul tumbuhnya traumaku naik taksi di Korea. Kapan-kapan lagi, aku ceritakan pengalaman naik taksi lainnya –yang mungkin akan menumbuhkan rasa trauma kalian juga. Hahaha…

Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di blog selanjutnya!

 

 

Komentar

Postingan Populer