Part I: Seperti di K-drama! Semua orang dapat notifikasi yang sama secara bersamaan~

Sudah cukup dengan keluyuran setiap hari (jam 14.00 – 17.00). Hari ini badanku tidak terasa sehat. Panas, radang, dan flu. Sepertinya, tubuhku belum terbiasa dengan cuaca di Korea pada musim panas. Kalau kata Bapak, kemungkinan tubuhku mengalami dehidrasi. Ya… salah sendiri, pendatang baru udah nantangin keluar rumah di jam-jam “waspada gelombang panas”. Karena itu, hari ini aku cuma mbatang di kos, menikmati waktu-waktu berharga untuk memaksimalkan rebahan.

Bicara tentang “waspada gelombang panas”, itu adalah salah satu pemberitahuan atau warning alert yang semua orang dapatkan di Korea –aku akan jelaskan nanti. Jadi, di blog kali ini, aku akan sebut dan ceritakan beberapa hal yang aku pelajari selama beberapa hari di Korea. Beberapa persis dengan yang kita tonton di K-drama!

1.    Warning Alert sudah menjadi notifikasi rutin

Hal pertama yang berhasil membuat jantungku sedikit melompat adalah warning alert yang tiba-tiba muncul di layar handphone-ku. Belum ada satu jam berdiam di bandara Incheon (2024/08/25), ternyata (mungkin) pemerintah Korea sudah memiliki akses untuk mengirim notifikasi itu kepadaku. Aku betul-betul kaget karena pada saat itu, handphone-ku sedang dalam mode dering. Jadi, suara alert seperti sirine itu cukup keras terdengar ketika notifikasinya masuk. Panik nggak keruan, aku buru-buru menghilangkan notifikasi. Tanpa sadar, sudah ada dua cewek Korea yang melihatku sedang panik sendiri. Mereka tertawa kecil, sedang aku, “malu kecil”. Hehehe… wajar saja kalau aku panik karena warning alert ditulis dengan huruf hangeul/한글 (alfabet Korea) –yang kalau mau tahu artinya harus menangkap layar dan diterjemahkan. Oh, ya, notifikasi ini mirip sekali dengan yang teman-teman sering lihat di K-drama. Semua orang mendapatkan notifkasi yang sama secara bersamaan. Bedanya, kalau di K-drama biasanya notifikasi tentang hal-hal selain yang berkaitan dengan cuaca, ya... semacam pesan yang dikhususkan untuk para remaja saj.

Selama aku di Korea, ada beberapa hal yang menjadi topik warning alert: (1) peringatan gelombang panas pukul 10.00 atau 14.00 – 17.00, (2) peringatan untuk menjaga diri dari COVID-19, dan (3) peringatan hujan lebat, potensi banjir, dan tanah longsor. Kalau ada peringatan gelombang panas, biasanya kami dianjurkan untuk tidak berada di tempat terbuka, mengurangi aktivitas luar ruangan, banyak minum, dan berlindung di tempat yang sejuk (ruang ber-AC). Kalau peringatan COVID-19, seperti biasa, kami dianjurkan untuk memakai masker dan menjaga jarak jika sedang beraktivitas di ruang tertutup dengan jumlah partisipan yang cukup banyak. Kalau peringatan hujan lebat, kami dianjurkan untuk menghindari aktivitas di tempat-tempat yang rawan longsor dan banjir.

(Contoh notifikasi warning alert)

Untuk pendatang baru seperti aku, notifikasi itu bisa cukup mengagetkan karena handphone tiba-tiba berbunyi atau bergetar cukup lama. Tapi, seiring bergantinya hari, aku sudah terbiasa. Sekarang, aku sudah tidak kaget dan panik lagi. Intinya, kalau sedang mode dering, handphone akan mengeluarkan suara seperti sirine, dan suara itu akan berhenti ketika tombol “OK” sudah disentuh. Lain lagi untuk mode hening atau getar, handphone akan bergetar dengan durasi yang lebih lama dibandingkan notifikasi pada umumnya.

Saranku untuk teman-teman yang tidak ingin dikejutkan oleh warning alert, kalian bisa pasang mode hening atau getar. Biar rasanya nggak seperti tiba-tiba ditodong~

 

2.    Free Wi-fi dimana-mana!

Latar tempatnya masih sama seperti di poin pertama, yaitu bandara Incheon. Aku sempat khawatir kalau paket data roaming Korea-ku belum aktif ketika pesawat yang aku naiki sudah mendarat sempurna. Setelah beberapa menit menunggu, aku menjadi lebih tenang karena paket datanya sudah aktif dan siap untuk digunakan. Namun, aku takut boros jika harus menggunakan paket data selama tiga jam menunggu bus di bandara. Akhirnya, aku mencoba untuk membuktikan kata orang tentang wi-fi gratis di Korea. Ternyata benar! Aku bisa pakai public wi-fi di bandara Incheon. Aku senang sekali karena bisa menghabiskan waktu satu sampai dua jam untuk melakukan panggilan video ke orang-orang tersayang tanpa takut paket dataku habis.

Ini adalah salah satu hal keren dari Korea yang aku tahu! Karena selain di bandara Incheon, ternyata public wi-fi yang gratis hamper ada dimana-mana. Mulai dari bus antar kota, bus dalam kota, terminal, stasiun, kampus, dan kos. Hanya saja, kalau di kampus biasanya kami harus masuk pakai Student ID Number, sedangkan di kos, kami harus sedia router. Enak, kan??

Jadi, teman-teman yang tidak mau membeli paket data roaming Korea, nomor Korea, atau e-sim tidak perlu terlalu khawatir karena di sini banyak wi-fi gratis. Bahkan, sepertinya paket data hampir tidak diperlukan –saking mudahnya akses wi-fi di berbagai tempat umum.

Oh, iya… meskipun banyak free wi-fi, baiknya teman-teman tetap siap paket data, ya, kalau lagi di Korea, untuk cari aman saja~

 

3.    Banyak aplikasi baru yang wajib dipasang

Perlu digarisbawahi! Teman-teman perlu menyisakan memori penyimpanan di handphone untuk memasang aplikasi penolong, seperti NaverMap, KakaoMap, KakaoTaxi, KakaoTalk, Papago, dan Coupang (opsional). Sejauh yang aku tahu, Google Map tidak update dengan informasi tata letak layanan publik, hiburan, dan lain-lain di Korea Selatan. Itulah sebabnya, orang yang berada di Korea Selatan akan lebih mudah untuk menggunakan NaverMap dan/atau KakaoMap sebagai penunjuk jalan. Menurutku, NaverMap jauh lebih enak digunakan dibanding KakaoMap karena tampilan rute bus, taksi, sepeda, maupun pejalan kaki lebih jelas dan mudah dipahami. Hanya saja, untuk log in NaverMap teman-teman akan membutuhkan nomor Korea. Berbeda dengan KakaoMap yang terintegrasi dengan KakaoTalk, teman-teman bisa log in dan membagikan lokasi dengan mudah menggunakan nomor yang terdaftar di KakaoTalk (tidak harus nomor Korea). Kalau KakaoTaxi, teman-teman akan memerlukan untuk transportasi dengan jarak cukup jauh –yang tidak terjangkau oleh bus dalam kota. Tarif taksi di Korea cukup mahal, jadi, selama teman-teman kuat jalan kaki, tidak usah pasang aplikasi KakaoTaxi. Biar hemat juga, mending jalan, ya, kan… maaf, ini pola pikir mahasiswa yang harus bisa mengatur uang. Hehehe~

Salah satu yang harus dimiliki untuk pendatang, terutama jika tidak bisa berbahasa Korea –adalah Papago. Papago adalah aplikasi penerjemah yang banyak digunakan di Korea. Aplikasi ini bisa membantu mengubah Bahasa satu ke Bahasa lainnya; dari suara, percakapan, teks, gambar. Plis… kalau ini jangan di-skip, ya… aku nggak mau tanggungjawab kalau kalian komunikasi pakai Bahasa kalbu sama orang Korea…

Terakhir, Coupang! Katanya, sih, Coupang ini mirip aplikasi Shopee tapi versi Korea. Teman-teman bisa membeli banyak barang melalui aplikasi ini. Aplikasi ini cocok buat teman-teman yang tidak suka belanja di tempat. Jadi, disarankan untuk pasang aplikasi ini kalau kalian tinggal di Korea lebih dari 90 hari dan punya nomor rekening bank Korea.

Sudah, deh… banyak, ya, aplikasinya. Hati-hati nggak kuat handphone-nya ㅠㅠ

❤❤

Itu dulu untuk hari ini. Sepertinya, bakal ada part dua atau lebih untuk membahas tentang hal-hal yang baru aku pelajari ketika di Korea.

Oh, iya. Aku melewatkan beberapa cerita harianku karena satu dan lain hal. Jadi, untuk blog-blog selanjutnya, mungkin aku akan bercerita atau membahas sesuatu secara acak saja, tidak urut hari, melainkan fokus langsung ke beberapa kejadiannya. Gapapa, kan?

Terima kasih sudah mampir lagi. Tungguin terus ceritaku, ya~


Komentar

Postingan Populer